Jumat, 01 Maret 2013


Tampilkan posting dengan label Tips Hafal Al-Qur'an . Tampilkan semua posting

Jumat, 22 Februari 2013

Seorang anak tunanetra penghafal Quran tak mengeluh dengan kecacatannya, mengharap rahmat pada Allah


Seorang anak tunanetra penghafal Quran tak mengeluh dengan kecacatannya, mengharap rahmat pada Allah
Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir ini. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlash atas ketetapan.
Penyiar TV Arab Saudi  Al-Wathan  mewancarai anak istimewa ini. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Quran dari Mesir yang berusia 11 tahun.
Dalam wawancara itu penyiar TV  Al-Wathan  menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Quran dan kebutaannya.
Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya. 
"Saya yang datang ke tempat syaikh," katanya.
"Berapa kali dalam sepekan?" Tanya penyiar TV.
"Tiga hari dalam sepekan," jawabnya.
Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu penyiar bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Quran hanya mengajarinya satu ayat per hari.
"Awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambahkan harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari, "ujarnya.
"Satu ayat saja?" Respon penyiar terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.
Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Quran, hingga ia tidak bermain dengan teman sebayanya.
Sang penyira tersenyum dan menempuk paha anak itu tanda kagum, yang disambut senyum ceria oleh anak ini.
Yang lebih menakjubkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penghilahatannya, rahmat Allah yang ia harapkan.
"Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku," katanya.
Mendengar jawaban anak ini sang penyiar semakin terkejut.
"Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Kenapa? "Tanyanya heran.
Dengan wajah meyakinkan, anak itu menampilkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.
"Semoga menjadi keamanan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari itu, "paparnya dengan tegas.
Mendengar kalimat mulia anak ini, semua diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan menitikkan air mata.
penghafal quran tuna netra dari mesir
"Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)? "Kata penyiar.
"Segala puji bagi Allah dalam segala kondisi," kata penghafal Quran muda ini.
Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan.
Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah). "Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi 'Allah tidak menutup pada hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,'" katanya.
Kehilangan penghlihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya.
"Segala puji Allah, saya tidak iri kepada teman meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat.Ini semua adalah  qadha '  dan  qadar  Allah, "katanya.
"Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi," kata anak istimewa ini.
Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.
Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi (shallallahu 'alaihi wa salam) bersabda: 
إن الله قال: إذا ابتليت عبدي بحبيبتيه فصبر, عوضته منهما الجنة
Allah berfirman: "Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga." (HR. Bukhari no. 5653, Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597, Ad- Darimi no. 2795 dan Ibnu Hibban no. 2932).

Abdurrahman Farih Menjadi Anak Kecil Pertama di Dunia yang Hafal Al Quran


Abdurrahman Farih

Abdurrahman Farih


[An-najah.net] Seorang anak kecil berumur 3 tahun asal Saudi, Abdurrahman Farih, menjadi anak kecil pertama di dunia yang berhasil menghafal Al Qur'an 30 juz.

Kepada salah satu stasiun TV, kedua orang tuanya mengatakan, "Abdurrahman mengalami keterlambatan dalam berbicara. Ia baru bisa berbicara ketika umurnya menginjak 2 tahun. Itu pun ia baru dapat berbicara Abi dan Umi. "Abdurrahman Farih merupakan salah satu anak ajaib di dunia, ia sudah hafal Al Qur'an 30 juz saat usianya baru meninjak 3 tahun. Padahal sebelumnya ia mengalami keterlambatan dalam berbicara.
Sebelumnya juga ada rekor baru, seorang berusia 70 tahun berwarganegara Suriah juga berhasil menjadi Hafidz Al Quran.
Padahal sebagaimana diketahui, orang yang telah berusia senja biasanya sulit untuk mengingat nama orang yang dekat dengannya, terlebih untuk menghafal Al Qur'an yang terdiri dari 600 halaman dan terkenal dengan kekuatan balaghoh dan kefasehannya. (Fani)

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan Al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan!


Penelitian ilmiah pengaruh bacaan Al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya.  Subhanallah, menakjubkan!
"Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur'an ...".
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% untuk mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an.
Al-Qur'an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an.Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman,  "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat"  (QS 7: 204).

Sabtu, 02 Februari 2013

Cerita tentang penghafal al-Quran yang berzina


Kemarin malam, saya berkunjung ke tempat teman, eks teman satu wisma dulu. Beliau dulunya dari fakultas teknik. Meskipun demikian, kesibukannya kini bukan di perusahaan, karena ia memilih untuk menyibukkan diri dengan menghafalkan Al-Qur'an. Bahkan, bukan hanya menghafalkan Al-Qur'an semata, tetapi ia juga berazzam untuk mengambil sanad minimal satu dari 10 qiraat.
Secara pribadi, saya paling suka kalau main ke tempat beliau, karena "pembicaraannya" tidak seperti pembicaraan manusia pada umumnya. Banyak nasehat yang dinukil dari kalamullah, hadits, atau petuah salaf sehingga membuat hati tidak bosan untuk mengambil faidah. Demikianlah persangkaan saya berdasar dzahir yang saya lihat, dan tidak bermaksud menyucikan seorang pun di hadapan Allah ta'ala.
Maka, tanpa terasa kunjungan saya pun sampai terlalu larut sampai jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul dua belas malam. Di antara nasehat terakhir sebelum berpisah; ia mewanti-wanti untuk menjauhi tempat-tempat dan sebab-sebab fitnah yang merusak. Katanya, nabi memberikan pesan bahwa jika seseorang mendengar kemunculan Dajjal di akhir zaman nanti, jangan penasaran untuk melihatnya, tetapi begitu mendengar nama Dajjal, segeralah lari menjauh. Ini juga merupakan indikasi bahwa kita jangan main-main dan merasa aman dari fitnah yang merusak. Seseorang yang lama belajar agama, tidak bisa dijamin dirinya akan selamat di akhir hidupnya nanti. Maka, jauhilah fitnah yang merusak sejauh mungkin, jangan coba-coba penasaran lalu mencicipi masuk ke dalamnya.
"Ada sebuah kisah nyata yang belum lama ini terjadi, ada seorang ikhwan, kesibukannya adalah menghafal Al-Qur'an, bahkan katanya sudah disebut hafizd. Di tempat lain, ada juga seorang akhwat yang hafizhah.
Dalam suatu waktu, diselenggarakan daurah kajian Ustadz di tempat yang tidak jauh dari mereka berdua berada. Entah karena sekadar ingin mencoba ta'aruf, atau sekadar ingin mengenal satu sama lain, atau entahlah alasan-alasan yang lain, mereka bersepakat untuk hadir dalam daurah Ustadz tersebut.
Usai daurah, mereka berdua bersepakat untuk berpapasan. Qadarullah, di saat mereka berpapasan, Allah menurunkan hujan. Karena basah kuyup, mereka mencari tempat untuk berteduh. Di saat mereka berada di tempat berteduh tersebut, setan menggoda mereka akhirnya terjadilah perbuatan yang menyedihkan, zina. Na'udzubillahi min dzalik. "
Kisah di atas bukan fiksi, tetapi kisah nyata yang belum lama terjadi. Alhamdulillah pelaku zina tersebut kini sudah bertobat (mudah-mudahan Allah menerima taubatnya dan menutup aibnya), dan memungkinkan cerita ini disampaikan untuk menjadi ibrah (pelajaran), dengan tidak menyebut nama pelaku.
Usai menceritakan kisah tersebut, teman saya ini mengingatkan bahwa tujuan kita hidup ini adalah mencari jalan menuju surga, yang belum pernah kita rasakan. Nah, apakah kita ingat bahwa nabi Adam alaihis-salam yang sudah merasakan kenikmatan surga tanpa kekurangan suatu apapun, masih saja terkena godaaan iblis untuk mendekati pohon yang dilarang Allah untuk didekati? Apalagi kita yang hidup di bumi yang penuh kekurangan, ketidaknikmatan, dan kalaupun ada kenikmatan, belum ada apa-apanya dengan kenikmatan surga? Maka, kemungkinan untuk termakan godaan iblis untuk menikmati kenikmatan tipuan lebih besar lagi. Wal'iyadzu billah.
Lihatlah contoh pemuda penghafal Al-Qur'an ini. Bandingkan dengan kita yang mungkin minim atau hampir tidak punya hafalan Al-Qur'an, apalagi belajar agama. Apalagi perhatikan, mereka berdua tidak janjian di tempat pelacuran, tempat cafe, atau karaoke malam, tetapi janjian di tempat daurah, tempat majelis ilmu. Maka, ingatlah bahwa iblis tidak akan menyerah menggoda anak cucu Adam. Apalagi, iblis memilki pengalaman dari zaman Adam hinggga zaman sekarang untuk menyesatkan manusia. Kurang pengalaman apa lagi? Jika orang shalih saja masih terkena rayuan iblis, maka kita yang pas-pasan ini harus lebih ekstra hati-hati.
Bersyukurlah kita yang masih diselamatkan Allah ta'ala dari maksiat besar. Namun, kita tidak tahu besok apakah kita masih aman dari maksiat atau tidak. Bisa jadi, sekarang kita memang di jalan yang lurus, tetapi besok? Maka, jika kita menyadari ini, masih ada waktu untuk mengistiqomahkan diri, dan bertobat dari kesalahan-kesalahan yang dulu pernah kita perbuat. Dan jangan lupa teruslah berdoa kepada Allah agar selalu istiqomah, karena keistiqomahan merupakan anugerah Allah.
Janganlah sekali-kali kita aman dari pebuatan maksiat. Maka, jauhilah sebab-sebab fitnah yang merusak. Jauhilah tempat-tempat yang bisa menimbulkan fitnah yang merusak.Selalu Luruskanlah niat kita, karena kalau hati ini tidak lurus, amalan shalih yang selama ini kita lakukan tidak ada artinya.
* Demikianlah faidah yang saya rangkum dari pembicaraan dengan teman saya ini. Mudah-mudahan bisa jadi pengingat bagi diri saya sendiri dan siapa saja yang membaca catatatan ini.

Yogyakarta, Akhir Muharram 1433 - 24 Desember 2011 M
Oleh: Abu Muhammad Al-'Ashri
(Alashree blog / muslimahzone.com dan arrahmah.com)

Jumat, 18 Mei 2012

Mengenal sab'ah Ahruf dalam Al-Qur'an

E-mail

mengenal_sabah_ahruf_dalam_alquran_s.jpgTelah menjadi ijma 'di kalangan para ulama bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan membawa sab'ah ahruf (tujuh huruf) berdasarkan hadist-hadist shahih dari Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam.Namun mereka berbeda pendapat tentang makna sab'ah ahruf tersebut. Berikut ini uraian mengenai masalah tersebut serta perbedaan antara ahruf dan qiroat.

Definisi Ahrufus sab'ah
 
Kata ahruf adalah bentuk jamak (plural) dari kata harf (huruf) yang secara bahasa berarti ujung, pinggiran, puncak atau perbatasan. Dalam Al-Qur'an disebutkan, "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di harf." (QS. Al-Hajj: 11) Yaitu di tepi atau batas terluar keyakinan, maksudnya adalah berada dalam keragu-raguan. Jika mendapatkan kesenangan mereka tetap beriman, namun jika mendapatkan kesusahan mereka kembali kepada kekafiran. (Tafsir Ath-Thobari)
 
Adapun terkait hadits-hadits tentang tujuh ahruf, para ulama berbeda pendapat tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata "ahruf" tersebut. Sebagian ulama menafsirkan dengan logat (dialek bahasa). Jadi, maknanya Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh logat di antara logat-logat kabilah Arab. Ini adalah pendapat Al-Fairuzabadi (penulis kamus Al-Muhith).
 
Ulama lain menafsirkan kata ahruf dengan ragam bacaan . Jadi, Al-Qur'an mengakomodir tujuh ragam bacaan di dalamnya. Namun bukan berarti setiap kata atau kalimat dibaca dengan tujuh ragam bacaan.Akan tetapi, seluruh perbedaan yang terdapat dalam pengaturan membaca Al-Qur'an itu tidak keluar dari tujuh ragam bacaan tersebut. Misalnya kata "maliki yaumiddin" (QS. Al-Fatihah: 4), telah diriwayatkan bahwa kata itu memiliki tujuh sampai sepuluh ragam bacaan, begitu juga kata "wa 'abadat thoghut" (QS. Al-Maidah: 60) juga diriwayatkan memiliki ragam bacaan sampai dua puluh dua. Bahkan kata "uff" diriwayatkan memiliki ragam bacaan sampai tiga puluh tujuh ragam. Akan tetapi, semua ragam bacaan itu tidak keluar dari tujuh ahruf yang dimaksud dalam hadits-hadits nabawi. Semua itu menunjukkan bahwa makna diturunkan dengan tujuh ahruf adalah dengan mengakomodir tujuh ragam bacaan.Sebanyak apa pun cara membaca suatu kata dalam ayat tertentu, tidak akan keluar dari batas tujuh ragam bacaan ini.
 
Lalu, apa saja yang termasuk tujuh ragam bacaan tersebut? Apakah kata "tujuh" dalam hadits itu menunjukkan jumlah (yaitu angka yang berada di antara "enam" dan "delapan"), atau menunjukkan makna banyak?
 
Salah seorang ulama Al-Azhar, Syaikh Muhammad Abdul 'Azhim Al-Zarqani (w. 1367 H) menjelaskan masalah ini secara panjang lebar dalam kitabnya, Manahil Al-Irfan fie Ulum Al-Qur'an. Ia menyebutkan tiga pendapat yang paling kuat dalam perbedaan pendapat ini lalu mengunggulkan salah satunya, yaitu pendapat Imam Al-Razi. Menurutnya, kata "tujuh" dalam hadits nabawi menunjukkan jumlah, yaitu angka antara enam dan delapan, bukan menunjukkan makna yang banyak.
 
Adapun ketujuh ragam bacaan tersebut adalah sebagai berikut:
 
Pertama, ragam penyebutan kata benda (ism) yaitu dalam bentuk tunggal (mufrad), ganda (Mutsanna) dan plural (jamak), atau pun dalam bentuk muzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan). Misalnya dalam ayat yang berbunyi:
 
والذين هم لأماناتهم وعهدهم راعون
 
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (QS. Al-Ma'aarij: 32)
 
Dalam riwayat lain, kata ( لأماناتهم ) dibaca ( لأمانتهم ) tanpa memperpanjang huruf nun yaitu dalam bentuk tunggal dari kata "amanah".
 
Kedua, ragam tashrif al-af'al (tenses) dari bentuk madhi (past), mudhari '(present) dan amr (perintah).Misalnya dalam ayat yang berbunyi:
 
فقالوا ربنا باعد بين أسفارنا
 
Maka mereka berkata: "Ya Rabb kami jauhkanlah jarak perjalanan kami". (QS. Saba: 19)
 
Dalam riwayat lain, kata "rabbana" ( ربنا ) yang berupa Munada dibaca dengan mendhammahkan huruf ba 'menjadi "rabbuna" ( ربنا ) yang berupa fa'il, kemudian kata "baa'id" ( باعد ) yang berupa kata perintah dibaca dengan men -tasydidkan huruf 'ain dan memfathahkannya bersama huruf dal menjadi "ba'ada" ( بعد) yaitu berupa kata kerja masa lampau (past).
 
Ketiga, ragam I'rab . Misalnya adalah ayat berikut:
 
ولا يضار كاتب ولا شهيد
 
dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan (QS. Al-Baqarah: 282)
 
Dalam riwayat lain, kata ( يضار ) dibaca dengan mendhammahkan huruf ra '( يضار ). Dalam bacaan pertama (dengan memfathahkan ra '), maka I'rab huruf lam adalah nahiyah, sedangkan dalam bacaan kedua, huruf lam dii'rabkan dengan lam nafiyah.
 
Keempat, ragam penambahan maupun pengurangan . Misalnya adalah ayat berikut:
 
وما خلق الذكر والأنثى
 
dan penciptaan laki-laki dan perempuan, (QS. Al-Lail: 3)
 
Dalam riwayat lain, dibaca seperti di bawah ini:
 
والذكر والأنثى
 
Yaitu tanpa kata ( ما خلق )
 
Kelima, ragam taqdim (mengawalkan) maupun ta'khir (mengakhirkan) . Misalnya ayat berikut:
 
وجاءت سكرة الموت بالحق
 
Dan datanglah sakaratul maut dengan haq. (QS. Qaaf: 19)
Dibaca:
 
وجاءت سكرة الحق بالموت
 
Dan datanglah sakaratul haq dengan maut. (QS. Qaaf: 19)
 
Keenam, ragam ibdal. Misalnya ayat berikut:
 
وانظر إلى العظام كيف ننشزها
 
dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali (QS. Al-Baqarah: 259)
 
Dengan huruf zay, dibaca:
 
وانظر إلى العظام كيف ننشرها
 
Dengan huruf ra 'pada kata ( ننشرها ).
 
Ketujuh, ragam logat , yaitu tata cara membaca kata tertentu berdasarkan logat Arab seperti fathah, imalah, taqlil dan sebagainya. Misalnya ayat berikut:
 
وهل أتاك حديث موسى
 
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? (QS. Thaha: 9)
 
"Ataaka" (dengan fathah), dibaca "Ateeka" (dengan imalah), begitu juga "musa" dibaca "muse" (dengan huruf e seperti dalam kata "enak")
 
Demikianlah penjelasan tentang makna ahrufus sab'ah atau tujuh ragam bacaan yang terdapat dalam Al-Qur'an. Seluruh riwayat tentang tata cara membaca kata tertentu dalam Al-Qur'an tidak akan keluar dari tujuh bentuk di atas.
 
Qiroatus Sab'i (Bacaan Tujuh)
 
Qiroat adalah bentuk jamak (plural) dari kata qiroah yang berarti bacaan (tilawah). [1] Adapun secara istilah, qiroat adalah ilmu tentang tata cara membaca lafal-lafal dalam Al-Qur'an beserta perbedaannya dengan merujuk kepada para penukilnya.
 
Qiroatus sab 'adalah tata cara membaca Al-Quran berdasarkan nukilan tujuh qurra' ternama yaitu Nafi, Ibn Katsir, Abu Amr, Ibn Amir, 'Ashim, Hamzah dan Al-Kisai.
 
Rukun-Rukun qiroat Sahihah
 
Qiroat Sahihah adalah qiroat yang memenuhi rukun-rukunnya sehingga wajib diterima dan tidak bisa ditolak. Rukun-rukun itu ada tiga:
1. Sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa Arab meskipun satu wajh.
2. Sesuai dengan rasm Ustmani, meskipun secara ihtimal.
3. Memiliki sanad yang mutawatir.
 
Contoh qiroat yang Sahihah adalah kata maliki (dengan mim pendek) dan Maaliki (dengan mim panjang) dalam surat Al-Fatihah. Bacaan pertama (maliki) sesuai dengan kaidah bahasa Arab yaitu berupa ism majrur ma'thuf 'ala rabb (kata yang dijerkan karena terpengaruh kata sebelumnya yaitu rabb) yang berarti "raja", sesuai dengan rasm Utsmani secara lafzhi yang memuat huruf mim-lam- kaf dan memiliki sanad yang shahih sampai Imam 'Ashim dan Al-Kisai. Demikian pula bacaan kedua (Maaliki) sesuai kaidah Bahasa Arab, yang berarti "pemilik", sesuai rasm Ustmani secara ihtimal (taqdiri) yaitu ditakdirkan ada huruf alif setelah mim dan memiliki sanad yang shahih pula sampai jumhur qurra '.
 
Ibnul Jazari berkata, "Setiap qiroah yang sesuai Bahasa Arab-meskipun satu wajh, sesuai salah satu mushaf Utsmani-meskipun secara ihtimal, dan shahih sanadnya, maka itulah qiroah Sahihah yang tidak bisa ditolak dan tidak dihalalkan mengingkarinya, bahkan itu termasuk tujuh ahruf yang dengannya Al-Qur'an diturunkan. Wajib bagi manusia menerimanya, baik yang berasal dari Imam Tujuh (aimmah sab'ah), Sepuluh (Asyarah) maupun selain mereka yang maqbul (diterima). Bila hilang salah satu di antara tiga rukun ini, maka disebut Dhaifah (lemah), Syadzah (ganjil) atau Bathilah (palsu), baik dari Imam Tujuh maupun dari imam yang lebih senior dari mereka. Inilah yang benar menurut para imam peneliti, dari kalangan salaf dan khalaf. "[2]
 
Abu Syamah berkata, "Tidak selayaknya seseorang tertipu dengan setiap qiroah yang dilekatkan pada salah satu Imam Tujuh lalu menyebutnya Sahihah dan begitulah qiroat itu diturunkan, kecuali jika telah masuk dalam kategori di atas, karena sesungguhnya qiroah yang dilekatkan pada setiap salah satu qori dari Imam Tujuh dan selain mereka terbagi menjadi (dua): mujma '' alaih (yang disepakati) dan syadz (ganjil), hanya saja ketujuh imam tersebut karena popularitas mereka dan banyaknya sisi yang shahih dan disepakati dalam qiroah mereka, hati ini cenderung kepada apa yang mereka nukil dari apa yang dinukil oleh selain mereka. "[3]
 
Menurut Ibnul Jazari, qiroat yang Sahihah berjumlah sepuluh, tujuh di antaranya disepakati ketawaturannya yaitu sebagaimana disebutkan di atas, sedangkan tiga lainnya masih diperselisihkan yaitu Abu Ja'far, Yakub dan Khalaf Al-'Asyir, namun Ibnul Jazari mengunggulkan pendapat yang menganggapnya Mutawatirah. Adapun sisanya yang berjumlah empat adalah syadzah, yaitu Al-Hasan Al-Bashri, Ibn Muhaishin, Yahya Al-Yazidi dan Al-Syanbudzi.
 
Hubungan Antara Ahruf dan qiroat
Dari penjelasan di atas, tampak jelas perbedaan antara tujuh ahruf yang disebutkan dalam hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tujuh qiroat yang populer saat ini dan hubungan antara keduanya.
 
Hubungan antara ahrufus sab'ah dengan qiroatus sab 'adalah seperti hubungan antara rumah dengan kamar. Ahruf ibarat rumah sedangkan qiroat ibarat kamar. Sebanyak apapun qiroat yang ada, seluruhnya berada dalam lingkup ahruf. Namun tidak semua ahruf itu ada dalam satu qiroat. Adakalanya huruf tertentu disebutkan dalam satu qiroat dan tidak disebutkan dalam qiroat lainnya.
 
Oleh karena itu, tidak benar anggapan sebagian masyarakat bahwa ahrufus sab'ah adalah qiroatus sab ', sebab jika yang dimaksud ahruf adalah qiroat, berarti qiroat-qiroat lain di luar tujuh qiroat tersebut tidak termasuk Al-Quran. Padahal sudah maklum di kalangan ulama bahwa qiroat yang dianggap sebagai Al-Quran bukan hanya tujuh itu saja, tapi sepuluh (ditambahkan qiroat Abu Ja'far, Yakub dan Khalaf Al-'Asyir).
 
Memang ada sebagian ahli fikih yang mengatakan bahwa qiroat lain di luar qiroatus sab 'tidak bisa dibaca di dalam shalat karena ketawaturannya masih diperselisihkan, namun pendapat ini adalah sebagai langkah kehati-hatian saja dan agar masyarakat tidak kebingungan dengan bacaan-bacaan yang masih asing di telinga mereka sehingga dapat menimbulkan fitnah (kekacauan).
 
Selain itu, pemilihan tujuh nama dalam qiroatus sab 'bukanlah berdasarkan tawqifi (perintah) dari Nabi shallallahu' alaihi wa sallam, melainkan berdasarkan ijtihad yang dilakukan oleh ulama qiroat. Kemudian, para ulama juga berbeda pendapat dalam menentukan ketujuh qiroat tersebut. Misalnya, sebagian ulama memasukkan nama Abu Ja'far ke dalam qiroatus sab ', sebagian lain tidak. Jika benar yang dimaksud oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tujuh ahruf adalah tujuh qiroat (berdasarkan nama-nama orang), tentu perbedaan semacam ini tidak layak terjadi, sebab perbedaan ini akan menyebabkan penolakan terhadap qiroat yang tidak dimasukkan dalam qiroatus sab'.
 
Adapun tentang penentuan tujuh ahruf sebagaimana disebutkan di atas, semua itu didapatkan dari proses penelitian menyeluruh (istiqra 'Tamm) dari semua qiroat yang ada.
 
Wallahu a'lamu bish showab.
 
 
[1] Al-Qamus Al-Muhith; Al-Mu'jamul Wasith materi: qra.
[2] An-Nasyr fil Qiroatil 'Asyr, Muhammad Ibnul Jazari, 1/9, cet. Al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra.
[3] Ibid.

Rabu, 28 Maret 2012

Metode Tahfidz Ala Yaman


Bismillah ..

Hari Kamis pekan kemarin, tepatnya tanggal 16 Juni 2011, diadakan penelitian yang berisi tentang Metode Tahfidz Ala Yaman, Kunci Kuat Cepat Tahfidz. Pembicaranya adalah seorang syekh sekaligus hafidz dari Yaman, yaitu Syekh Ahmed Syihaby Al-Yamani hafidzahullah . Tempatnya di Masjid Kebonan Surakarta, dekat dengan daerah Sriwedari. Kajian ini disampaikan dengan bahasa Arab sehingga sebagian besar yang hadir adalah para ustadz - ustadzah dan para santri ma'had islam / tahfidzul qur'an.
Isi penelitian berupa fadhilah / keutamaan orang-orang yang menghafal al-qur'an. Mereka adalah orang pilihan dan sebaik-baik orang di antara manusia. Jika ingin bisa menghafal al-qur'an, maka hati itu harus sangat bersih .. bersih sebersih-bersihnya .. bebas dari berbagai penyakit hati seperti hasad / dengki, dendam, berprasangka buruk pada orang lain, dsb.
Lalu beliau menyebutkan hadits tentang kondisi  orang-orang yang memiliki hafalan al-Qur'an ketika dulu di dunia . Mereka diperintahkan oleh Allah untuk membaca al-Qur'an dengan tartil sambil menaiki tangga. Hanya saja mereka membacanya  tidak dengan membaca mushaf, tapi dengan hafalan yang ia miliki.  Semakin banyak hafalannya, maka semakin tinggi derajat surga yang ia peroleh. Oleh karena itu, tentu saja orang yang paling tinggi derajatnya (berdasarkan hadits ini) adalah orang yang paling banyak hafalannya (sudah hafal al-qur'an secara keseluruhan / hafal 30 juz).
Setengah jam kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metode tahfidz yang dilaksanakan di Yaman.  Bagaimana sih metodenya?
Ia menjelaskan kalau waktu menghafal terbaik adalah ada di tiga waktu, yaitu: 
(1) sebelum fajar, 
(2) sebelum maghrib / ba'da ashar, dan 
(3) sebelum tidur. 
Pada pagi hari sebelum fajar, santri2 tahfidz menghafal al-qur'an, lalu setelah shubuh, hafalan baru (Ziyadah) tersebut disetorkan kepada seorang hafidz (gurunya). Setelah itu mereka me-muraja'ah hafalannya harus dengan tingkat hafalan yang sangat baik, tidak bisa ada kesalahan kecuali satu atau dua saja. Sampai jam 10 siang, mereka harus selalu bersama al-qur'an dan tidak bisa berpindah ke aktivitas lain. Setiap kali selesai sholat fardhu, mereka membaca al-qur'an satu juz dan memuraja'ah hafalannya.
Bagaimana jika ingin menghafal tapi orang tersebut sibuk?
Ia menjelaskan orang tersebut harus punya target menghafal setiap hari, meskipun sedikit. Hafalan yang sedikit tapi kuat itu lebih baik dari hafalan banyak tapi lemah. Karena sibuk, maka ia harus pandai2 memanfaatkan setiap waktu luang yang ia miliki untuk menghafal al-qur'an. Selain itu, dalam satu hari ia juga harus memiliki waktu khusus untuk menghafal alquran di mana tidak bisa digunakan untuk aktivitas lainnya. Kemudian ia juga harus mencari teman yang bisa diajak untuk menghafal bersama atau diminta untuk menyimak hafalan yang telah ia peroleh. Dengan memohon pertolongan Allah, insya Allah cita-citanya dalam menghafal al-Qur'an bisa tercapai, bi idzniLlah.
Apakah seorang yang membaca al-Qur'an itu  wajib  membaca al-qur'an sesuai makhraj yang benar?Misalnya ketika mengucapkan huruf ta ', disertai dengan hams (mengeluarkan nafas)?
Ia menjelaskan bahwa hams adalah salah satu sifat huruf yang senantiasa menyertai huruf tersebut ketika diucapkan (ia memberi contoh dengan mulut beliau bagaimana mengucapkan huruf ta 'dengan benar-ada hamsnya-). Jadi, kelau belum bisa mengucapkan huruf ta 'dengan sempurna beserta sifat-sifat yang dimiliki huruf tersebut, maka ia harus selalu berusaha untuk memperbaikinya lagi, terus-menerus. Jika memang sudah berusaha terus dan belum bisa, maka  laa yukallifuLLAAHU nafsan illaa wus'ahaa. . Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya ..
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat padahal masih banyak ilmu yang ingin kami gali dari beliau.Dengan mendengarkan taushiyah beliau, serasa kami mendapatkan semangat / energi baru untuk bersungguh-sungguh dalam menghafal, menjaga, dan mengamalkannya semata-mata lillaahi Ta'ala.Allaahu Akbar! Sumber:  http://nikenpuspitasari.wordpress.com/2011/06/21/metode-tahfidz-ala-yaman/


Senin, 26 Maret 2012

21 Vitamin untuk Meningkatkan Stamina dalam Menghafal Al-Quran




Belajar dan menghafal al-Quran selama ini identik dengan aktifitas para santri yang sedang bergelut dengan pelajaran ilmu-ilmu keislaman di pondok pesantren, sementara para pelajar dan mahasiswa lebih sering dikaitkan dengan aktifitas belajar ilmu-ilmu umum dan teknologi modern. Mungkin terbilang langka mahasiswa hafal al-Quran ataupun dosen hafal al-Quran. Padahal kalau mau berkaca pada sejarah ilmuan-ilmuan muslim yang fenomenal dalam bidang filsafat dan sains pada abad pertengahan Islam, kita pasti akan mendapatkan segudang contoh orang-orang yang mumpuni di bidangnya, dan mereka rata-rata hafal dan menguasai al-Quran. Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ar-Razi   dll, mereka adalah sosok ilmuwan yang komplit, rumus-rumus fisika, kimia, astronomi dikuasai, tafsir, hadis, fiqh juga dipahami secara mendalam.

Apa rahasianya? Ternyata memang saat itu ada tradisi yang kuat bahwa hafal dan paham al-Qur'an itu merupakan "harga mati" (tidak bisa ditawar) sebelum mereka beranjak untuk mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Hal ini tercermin dalam tulisan Imam An-Nawawi dalam kitabnya "Al-Majmu":

وينبغى أن يبدأ من دروسه على المشايخ: وفي الحفظ والتكرار والمطالعة بالأهم فالأهم: وأول ما يبتدئ به حفظ القرآن العزيز فهو أهم العلوم وكان السلف لا يعلمون الحديث والفقه إلا لمن حفظ القرآن

 "Hal Pertama (yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu) adalah menghafal Al Quran, karena ia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadis dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. "Imam Nawawi, Al Majmu ', (Beirut, Dar Al Fikri, 1996) Cet. Pertama, Juz: I, hal: 66

Dan menurut pengamatan penulis, sejumlah mahasiswa yang menghafal al-Quran ataupun yang telah hafal, memiliki tingkat kecerdasan dan kreatifitas lebih dibanding lainnya. Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, dalam acara wisuda 2008 pernah menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir peraih predikat mahasiswa terbaik selalu diraih oleh mahasiswa yang hafal al-Quran. Hal yang sama juga dibuktikan oleh keluarga Bapak Mutammimul Ula.Kesepuluh putra putrinya yang sedang menghafal al-Quran itu rata-rata menjadi pelajar dan mahasiswa terbaik di sekolah mereka masing-masing.

Oleh karena itu tidak heran bila ada testimoni yang mengejutkan dari Dr. Abdul Daim al-Kaheel dari Kuwait. Ia menulis dalam Artikel yang berjudul: Asrar al-ilaj bi istima 'ila al-Quran dalam situs pribadinya: www.kaheel7.com, sebagai berikut:

ويمكنني أن أخبرك عزيزي القارئ أن الاستماع إلى القرآن بشكل مستمر يؤدي إلى زيادة قدرة الإنسان على الإبداع, وهذا ما حدث معي, فقبل حفظ القرآن أذكر أنني كنت لا أجيد كتابة جملة بشكل صحيح, بينما الآن أقوم بكتابة بحث علمي خلال يوم أو يومين فقط



Bisa saya informasikan pada para pembaca yang terhormat bahwa mendengarkan ayat al-Quran secara kontinyu akan menambah kemampuan berinovasi, sebagaimana yang terjadi pada diri saya. Sebelum hafal al-Quran, saya masih ingat, saya kesulitan menulis satu kalimat dengan baik dan benar, sementara sekarang saya mampu menulis karya ilmiah hanya dalam kurun waktu satu sampai dua hari saja.

Untuk itu, kehadiran artikel ini dirasa penting untuk memotivasi dan mengarahkan mahasiwa yang belum atau sedang menghafalkan al-Qur'an agar mereka bergairah untuk menghafal dan harapannya, mereka kelak menjadi generasi Islam yang unggul dan mumpuni, sebagai "reinkarnasi" dari Al-Ghazali, Ar- Razi, Ibnu Miskawaih dll. Salah satu tahapan utama dan pertama adalah menjadikan para mahasiswa muslim mau menghafal dan memahami Al-Quran.  

Berikut ini motivasi dan alasan-alasan ringan, realistis, praktis, tentang mengapa al-Quran itu penting untuk dihafal oleh mahasiswa.



1.    Otak, semangat, dan kesempatan Anda sekarang berada di masa keemasan

Kalau Anda seorang mahasiswa, pasti usia Anda masih dalam kisaran 18-24 tahun. Usia tersebut masuk dalam kategori usia subur dan produktif (golden age) dalam mencari ilmu, termasuk menghafal. Terkait ini dengan usia ini, Syekh Alwi al-Haddad-dalam bukunya "Sabilul Iddikar" (matan kitab An-Nashoih ad-diniyyah) mengatakan:

وأعجزه الفخار فلا فخار   إذا بلغ الفتى عشرين عاما

فلا سدت ما عشت من بعدهنه             إذا لم تسد في ليالي الشباب

Ketika usia remaja menginjak 20 tahun dan tidak memiliki kebanggaan, maka tidak akan muncul kebanggaan lagi

Ketika engkau tidak mampu menguasai masa remaja, maka engkau tidak bisa menguasainya setelah itu selama hidupnya. 

Dengan kata lain, "hari ini" untuk seorang remaja adalah miniatur kesuksesan di masa yang akan datang.Bila "hari ini" dalam diri seorang remaja telah tumbuh benih-benih kompetensi, integritas, kepemimpinan, etos kerja tinggi, kemungkinan besar 10 tahun atau 15 tahun yang akan datang, sudah menjadi orang sukses sesuai dengan yang dia kerjakan sekarang.



2. Bersyukurlah, tidak banyak orang yang bisa baca al-Quran

Mensyukuri Allah adalah sebuah keniscayaan manusia sebagai hamba Allah. Allah memberikan anugerah kepada hambanya sesuai takaran takdir yang dibarengi dengan ikhtiar maksimal. Oleh karenanya, penilaian karunia yang Allah berikan kepada hambanya berbeda-beda satu sama lain. Allah berfirman (QS. An-Nahl: 71):

والله فضل بعضكم على بعض في الرزق

Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki,

Rizki itu bisa berupa harta, anak, kesehatan, ilmu dan persaudaraan. Kalau Anda hari ini kemampuan membaca ayat-ayat al-Quran dengan baik, syukuri itu sebagai bagian dari rizki Allah. Tidak banyak orang yang bisa membaca al-Quran, hanya orang pilihanlah yang diberi kemampuan itu.

Nabi bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka dia memeiliki pemahaman dalam agama

Pengalaman saya (penulis) mengajar matakuliah PAI (pendidikan Agama Islam) di beberapa kampus di kota Malang, rata-rata 80% dari mereka belum bisa baca al-Quran padahal usia mereka berkisar 18-20 tahun.Belum lagi kemampuan baca al-Quran masyarakat umum non mahasiswa, tentu lebih banyak lagi. Jika kita termasuk orang yang bisa baca al-Quran, maka bersyukurlah dengan cara yang lebih produktif. Adakalanya dengan memperbanyak bacaan Al-Quran, meningkatkan pemahaman isinya atau meneruskannya ke jenjang tahfidz (menghafalkan).

Mungkin tidak akan bermanfaat apa-apa, ketika kemampuan baca al-Quran yang dimiliki itu tidak diterapkan secara konsisten. Sebagaimana pisau, ia tidak akan berarti apa-apa bila tidak digunakan untuk keperluan memotong. Allah memberikan ilmu hakikatnya bukanlah sebagai tujuan (goal) tapi semata alat (media) untuk sampai pada tujuan. Sedang tujuan akhirnya adalah pengamalan dan pengajaran al-Quran itu sendiri.



3. Betapa banyak orang yang merindukan untuk menjadi penghafal al-Quran

Saya banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh Islam, akademisi yang ada di kota Malang. Mereka sekarang sudah jadi orang hebat, dihormati, memiliki penghasilan tinggi. Di antara mereka ada yang bercerita pada saya: "mas, saya sampai sekarang ini masih mendambakan untuk bisa hafal Al-Quran, tapi pada usia setua ini apa masih bisa? Bahkan, salah seorang dosen saya di S3 UIN Maliki Malang, dengan usia di atas 50 tahun, mengatakan:   "saya sekarang menghafalkan al-Quran, berapapun dapatnya tidak masalah, sebab Allah menghargai proses bukan hasil. Cita-cita saya sebelum meninnggal, kalau bisa semua ayat al-Quran sudah pernah dihafal agar memori otak yang Allah ciptakan ini pernah terisi dengan file-file   al-Quran. "Bukankah otak atau hati yang berisi al-Quran tidak akan disiksa oleh Allah? Sebagaimana sabda Rasulullah:



عن أبي أمامة: إنه كان يقول اقرؤوا القرآن ولا يغرنكم هذه المصاحف المعلقة فإن الله لن يعذب قلبا وعى القرآن (رواه الدارمي )



Bacalah al-Quran, jangan sekali engkau tertipu dengan mushaf yang tergantung ini, karena Allah tidak akan menyiksa hati yang berisi al-Quran (HR. Ad-Darimi)

Demikian juga salah seorang pembantu rektor di Universitas Negeri Malang, secara implisit bertanya hal yang hampir sama pada saya, yaitu tentang tata cara menghafal dan menjaga al-Quran di usia dewasa.Dua tahun yang lalu, saya mengikuti acara khataman di rumah P. Asrukin (pegawai Perpustakaan UM), di sana bertemu orang "sepuh" dari Kepanjen Malang yang sedang menghafal al-Quran sejak usia 55 tahun, waktu itu baru bisa menghafal 25 juz. Di Pesantren Darul Quran Singosari Malang, juga pernah kedatangan santriwati berusia 50-an tahun dari daerah Tanggul kota Jember. Teman saya, seorang ibu dua anak masih menyempatkan diri setoran hafalan al-Qur'an seminggu sekali di Pesantren Nurul Ulum Kebonagung Malang. Mungkin mereka yang merindukan menjadi penghafal al-Quran tersebut sudah pernah mencoba tapi gagal, atau mungkin karena kesibukannya tidak sempat menghafal. Jadi, kalau hari ini Anda menghafal, berarti Anda telah melakukan sesuatu yang banyak dirindukan orang lain. Kalau mereka baru bermimpi, Anda sudah melakukannya, berbahagialah!



4. Tidak banyak orang yang punya niat dan mulai menghafal

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa kemampuan baca al-Quran yang sudah ada selama ini harus ditingkatkan, sebagai ungkapan rasa syukur pada Allah. Demikian juga, bila kita hari ini sudah punya niat untuk menghafal dan sudah mulai menghafal, maka bersyukurlah, sebab tidak banyak orang yang mendeklarasikan diri untuk berkomitmen menghafal (nawaitu) dan mulai melakukannya.

Rasa syukur itu harus dimanifestasikan secara konkrit dalam upaya maksimal melanjutkan hafalan itu hingga paripurna (tuntas). Ibarat biji tanaman, setelah ditancapkan ke dalam tanah, ia harus kontinyu disiram dan dipupuk sampai tumbuh dan berkembang subur lalu berbuah.



5. Tidakkah kita malu dengan anak balita yang hafal al-Quran

Belum lama ini di situs Youtube terpampang seorang anak balita brilian yang membaca al-Quran bil ghaib.Dialah Abdurrahman Farih dari Al-Jazair (yang saat direkam baru berusia tiga tahun). Siapakah orang tua yang tidak bangga memiliki anak sesholih dan secerdas dia. Di Indonesia, orang tua yang anaknya terjaring dalam DACIL (Audisi Dai Cilik) saja bangganya bukan kepalang. Hal yang perlu menjadi catatan kita, dalam usia semuda itu si Farih telah memulai dan melaksanakan hafalan hingga tuntas.

Bagaimana dengan Anda? Sudah berapa usia Anda? Bila hari ini usia Anda sudah di atas 18 tahun dan belum nawaitu untuk menghafal atau belum tuntas dalam menghafal, patutlah Farih menjadi "cambuk", agar Anda merasa malu dan tergerak untuk memulai. Kapan lagi memulai, jangan pernah menunda sebuah niat suci. Motivasi tidak ada jaminan datang dua kali. Bisa jadi, niat yang pelaksanaannya tertunda akan menguap dan sirna selamanya.

Jangan putus asa bila di usia sekarang Anda belum sukses, masih ada beberapa tahun menuju usia 23 tahun dimana selama itu al-Quran lengkap diturunkan. Atau mungkin usia Anda sudah di atas 30 tahun, jangan putus asa untuk menghafal sebab Rasulullah mulai menerima wahyu dan menghafal baru di usia 40 tahun.Kalau usia Anda di usia 55 tahun belum selesai menghafal, jangan putus ada karena Rasulullah tuntas menerima wahyu di usia 61 tahun.



6. Tidak inginkah kita membahagiakan orang yang selama ini rela menderita untuk kita

Setiap kali terlahir anak manusia, pasti di sana ada orang yang ikut bersuka cita menyambut kehadiran sang bayi. Siang malam tercurah kasih sayangnya. Dialah ayah dan ibu kita. Sang anak tumbuh menjadi besar lalu menjadi remaja, tak pernah lepas dari belaian kasih sayang orang tua terutama ibu. Mereka rela menderita demi kebahagiaan sang anak. Keringat dan air mata menghiasi keikhlasan mereka dalam mendidik dan membesarkan putra putrinya.

Mahasiswa yang sedang studi jauh dari orang tua, terkadang tidak banyak tahu tentang penderitaan orang tua di rumah, bagaimana mereka membanting tulang, berhutang rupiah kesana kemari demi kelangsungan studi putra putrinya yang berada di perantauan, nun jauh di sana. Si anak sering tidak diberitahu tentang suka duka orangtua yang di rumah, agar tidak tak terganggu konsentrasi mereka. Namun, si anak harus merasakan dan peka akan suka duka orang tua tersebut. Harapannya, dari sana akan muncul empati dan simpati dari anak, untuk kemudian berupaya untuk memberikan balas budi kepada orang tua kelak di kemudian hari.

Dengan menghafal al-Quran, kita ingin memanjakan orang tua agar mereka bisa bangga dan terhibur.Rata-rata orang tua sudah merasa senang manakala anaknya berprestasi dan berperilaku baik, tawaddu ', dibanding semata-mata "pamer kekayaan". Paling tidak, dalam bayangan orang tua, ketika mendengar anaknya hafal al-Quran, kelak pahala baca al-Quran dari anak tak kan pernah putus dan akan senantiasa menerangi kubur mereka dengan cahaya Al-Quran.



Rasulullah bersabda:

عن سهل بن معاذ الجهنى عن أبيه أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال «من قرأ القرآن وعمل بما فيه ألبس والداه تاجا يوم القيامة ضوؤه أحسن من ضوء الشمس فى بيوت الدنيا (رواه أبو داود )

Barang siapa yang membaca al-Quran dan mengamalkan isinya maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan diberi mahkota yang cahayanya lebih indah dari sinar matahari di dunia.



7. Begitu indahnya, jika kubur orang tua kita selalu bersinar lantaran al-Quran yang selalu kita baca

Sebagai orang beriman, kita meyakini akan adanya siksa kubur dan akherat. Juga kita meyakini bahwa al-Qur'an yang kita baca pasti akan sampai pada orang yang telah meninggal. Cepat atau lambat orang tua kita pasti berpulang ke hadirat ilahi rabbi. Alangkah indahnya, jika kubur orang tua kita yang sempit dan gelap, bertaburkan cahaya al-Quran. Orang yang hafal al-Quran secara umum memiliki intensitas bacaan yang lebih tinggi dibanding dengan yang tidak, sehingga peluang untuk mendoakan dan mengirimkan pahala pada orang tua, lebih terbuka. Abu Ja'far meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa orang mukmin itu bila berada di dalam kuburnya maka kuburnya itu dilapangkan 70 hasta, ditaburi harum-haruman dan ditutup dengan kain sutera. Ketika ia hafal sebagian dari Al-Qur'an maka apa yang dihafalnya itu menerangi seluruh kuburnya, dan ketika ia tidak hafal, maka ia dibuatkan cahaya seperti matahari di dalam kuburnya. Ia bagaikan pengantin baru yang tidur dan tidak dibangunkan kecuali oleh istri yang sangat dicintainya. Kemudian ia bangun dari tidurnya seakan-akan ia belum puas dari tidurnya itu.



8. Betapa inginnya kita mendapatkan pendamping yang lidahnya selalu basah dengan al-Quran

Imam Ali Karromallahu Wajhah berkata:

عامل الناس بما تحب أن يعاملوك به

Perlakukan orang lain dengan sesuatu yang kau ingin diperlakukan seperti itu.

Bila kau ingin dapat hadiah, seringlah memberi hadiah pada orang lain. Sebaliknya bila kau ingin disakiti oleh orang lain, sakiti dia. Ungkapan tersebut senada dengan hadis nabi:

وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه (رواه مسلم )

Lakukan pada orang lain sesuatu yang dia suka diperlakukan seperti itu.

Kecenderungan banyak orang, mereka ingin mendapatkan pasangan hidup yang sempurna (cantik / tampan, pandai, setia, kaya dll). Sementara, tidak banyak yang memperindah dirinya dengan sifat-sifat sempurna semacam itu. Termasuk hal yang diidamkan oleh mayoritas muslim / muslimah adalah memiliki istri atau suami yang mahir atau hafal al-Quran. Begitu indah rasanya, apabila dalam keluarga yang dimotori oleh suami atau istri, ada gema lantunan ayat suci al-Quran yang tak pernah putus. Dengan demikian, suasana rumah akan terasa sejuk penuh aura kedamaian dan bertebarkan cahaya Qurani.

Rumah sebagai sebuah lembaga informal untuk mendidik putra putri yang shalih shalihah dan akan sukses, sementara anak-anak meneladani hal-hal baik yang dilakukan orangtuanya. Dari sini, banyak contoh yang bisa ditampilkan. Keluarga alm. KH. Amir Singosari Malang, enam anaknya hafal al-Quran, kel. Drs.Mutammimul Ula di Bekasi, 10 anaknya hafal al-Quran dll.

Hanya saja, sebaiknya ketergantungan kita dengan orang lain dihilangkan. Dari mengharap pasangan kita yang ideal, lebih baik mengidealkan diri kita sendiri. Dari bermimpi mendapatkan jodoh penghafal al-Quran yang susah terrealisasi, lebih baik kita sendiri menjadi penghafal al-Quran, why not? Alih-alih mengharap dan mencari, kita malah diharapkan dan dicari orang lain, insyaallah.



9. Begitu indahnya, jika kita membesarkan anak-anak kita dengan gema dan aura al-Quran

Mereka yang hari ini sukses, jadi orang besar, jadi orang baik, pasti mereka dididik dengan pola asuh yang benar. Mereka pernah kecil, mengalami masa anak-anak yang indah dan menyenangkan. Kita semua juga ingin anak-anak kita hidup demikian.

Tentu, dimulai dari orang tuanya. Sapu yang bersih akan dengan mudah membersihkan tempat kotor. Sapu yang kotor malah mengotori tempat bersih. Orangtua yang hafal al-Quran berpotensi menciptakan generasi yang hafal al-Quran ini. Di saat anak-anak masih tidur menjelang tiba waktu Subuh, kita bangunkan mereka dengan nada-nada al-Quran. Konon, alam bawah sadar anak (otak pada gelombang teta) akan terus merekam suara-suara luar meski mereka terlelap tidur. Meninabobokkan bayi, sembari  memperdengarkan alunan kalam ilahi, sungguh memberikan energi positif yang luar biasa.

Demikian juga, ketika mengantar dan menjemput anak sekolah, tak henti-hentinya orang tua mengemudi hafalan anak. Lebih-lebih lagi, waktu anak-anak sakit selalu dibacakan doa-doa dan ayat al-Quran untuk memohon kesembuhan mereka. Berkunjung ke makam famili dan orang sholih, kita ajari mereka mendoakan dan membacakan al-Quran dan pada even-even penting lainnya.



10. Suatu ketika, kita pasti menjadi dewasa lalu tua, apa kegiatan kita di saat-saat menyongsong ajal tersebut?

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa masa tua adalah masa dimana orang rentan terhinggap banyak penyakit, semua organ tubuh sudah berkurang fungsi dan powernya. Mata sudah mulai kabur, pendengaran juga tidak setajam dahulu. Mungkin pada usia itu, kita sudah pensiun dari pekerjaan, rumah sudah bagus, harta melimpah, sehingga tidak lagi membutuhkan aktivitas kerja lagi. Dalam kondisi seperti ini, apakah Anda betah berjam-jam duduk di depan televisi saja atau hanya jalan-jalan ringan mengelilingi rumah, meski harta melimpah. Lalu mana aktivitas ibadahnya?

Seusai shalat wajib di masjid tentu berdzikir lalu pulang ke rumah begitu seterusnya. Mau baca al-Quran mata tidak lagi jelas, apalagi menghafal. Relakah masa tua kita hanya seperti itu? Tidakkah kita ingin setiap hembusan nafas yang keluar dari mulut kita adalah untaian kalimat al-Quran. Setiap detakan jantung senilai sepuluh kebaikan lantaran huruf al-Quran yang kita baca. Siang dan malam hari, juz demi juz terdendangkan dengan merdu. Semua itu mustahil terjadi ketika seseorang tidak hafal al-Quran. Meski mata tak mampu melihat lekukan huruf-huruf al-Quran, tetapi hati sangat tajam dan pikiran terus bersinar, mampu menangkap lafadz dan makna al-Quran. Keistiqamahan semacam ini insyaallah menjamin kita untuk menghembuskan nafas terakhir dengan khusnul khatimah, amin.

Rasulullah menganjurkan agar "kepulangan kita" kelak kepada Allah dalam kondisi membawa al-Quran, beliau bersabda:

إنكم لا ترجعون إلى الله بشيء أفضل مما خرج منه يعني القرآن (رواه الحاكم عن أبي ذر الغفاري )

Sesungguhnya kalian tidak dikembalikan kepada Allah dengan membawa sesuatu yang lebih utama dibanding sesuatu yang keluar dari Allah yaitu Al-Quran.    

 

11. Maukah "rapot merah" amal kita "dikatrol" oleh al-Qur'an?

اقرءوا القرآن فإنه يأتى يوم القيامة شفيعا لأصحابه (رواه مسلم عن أبي أمامة )

Bacalah al-Quran, niscaya dia kan datang pada hari kiamat sebagai penolong pembacanya.

Hadis ini memberikan garansi kepada para pembaca al-Quran atau orang yang mendalami al-Quran.Garansi tersebut cukup melegakkan kita semua, sebagai hamba Allah yang penuh salah dan dosa. Di hari ketika harta dan tahta tidak lagi mampu menyelamatkan kita dari kobaran api neraka.

Anak dan saudara juga tak kuasa menolong dari dalamnya jurang jahannam, saat itulah al-Quran datang sebagai syafi '(penyelamat). Hari itu tak ada yang kita butuhkan melainkan rahmat Allah dan amal baik yang tulus kita lakukan. Allah memberikan 10 tiket surga kepada penghafal al-Quran yang juga praktisi isinya, untuk dibagikan pada keluarganya, sebagaimana sabda Rasulullah:

علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قرأ القرآن واستظهره فأحل حلاله وحرم حرامه أدخله الله به الجنة وشفعه في عشرة من أهل بيته كلهم وجبت له النار (رواه الترمذي )

Barang siapa membaca dan menghafal al-Quran lalu menghukumi halal dan haram berdasarkan Al-Quran, maka Allah akan memasukkannya ke surga dan memberi hak untuk menolong 10 keluarganya yang telah dipastikan masuk neraka.



12. Betapa inginnya kita selalu berhujjah dengan al-Quran dalam disiplin ilmu apapun

Hampir semua perguruan tinggi Islam di timur tengah mensyaratkan calon mahasiswanya hafal al-Quran minimal tiga juz untuk jurusan non keislaman dan mahasiswa non Arab, dan 15 juz untuk jurusan keislaman bagi mahasiswa dari negara-negara Arab. Persyaratan tersebut didasarkan pada pertimbangan akademis-ilmiyah. Sebagai calon intelektual muslim, mahasiswa muslim diharapkan mampu mengkolaborasikan ilmu umum dengan ilmu agama dan mensinergikan ayat qur'aniyyah dengan ayat kauniyyah.

Faktor inilah yang menambah tingkat urgensi hafalan. Orang yang hafal sangat potensial untuk paham arti isinya. Mereka yang hafal dan paham, berpotensi memiliki kapasitas dalam melakukan istinbath hukum serta proses istidlal secara cepat dan akurat.

Al-Quran menopang disiplin ilmu apapun. Ayat-ayat yang terkait ilmu-ilmu sosial, budaya, seni, sangat melimpah dalam al-Quran. Kita mendambakkan sosok seperti al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Sina, mereka jadi orang jenius dan kapabel dalam bidangnya masing-masing setelah menghafal al-Quran. Al-Quran yang telah terpatri dalam diri mereka, mampu menginspirasi untuk memunculkan karya monumental mereka yang abadi hingga kini. Dalam otak dan jiwa mereka seakan ada ensiklopedia besar nan lengkap. Ia siap diartikulasikan kapan saja, di mana saja dan dalam bidang apapun. Terlebih lagi untuk hal-hal yang bersinggungan dengan ilmu-ilmu keislaman, seperti fiqh, tafsir, hadis, dll.

Mengamati sejarah keilmuan para fuqaha, mufassirin, Muhadditsin yang populer, hampir tidak diketemukan dari mereka, orang   yang tidak hafal al-Quran. Bahkan rata-rata mereka hafal al-Quran di usia anak-anak. Misalnya, Imam Syafii hafal al-Quran di usia 7 tahun.



13. Betapa sejuknya hati, bila Al-Quran menghiasi setiap kegiatan dalam keseharian kita

Kesejukan dan kedamaian hati bisa disebabkan oleh banyak hal. Adakalanya kedamaian hati muncul karena ketercukupan materi dan keterpenuhan kebutuhan finansial. Bisa juga kedamaian hati itu datang melalui dzikir dan membaca al-Quran. Sebagaimana firman Allah: Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Artinya, semakin banyak kita membaca al-Quran, semakin lama pula tingkat kedamaian yang menyelimuti kita.

Al-Quran bisa dibaca secara fleksibel kapan saja; pagi, siang, sore, petang, malam, tengah malam, saat senang, saat susah. Demikian juga, ia bisa dibaca dimana saja; di atas sajadah, di atas kasur, di atas kendaraan, sambil jalan, sambil beraktifitas. Fleksibilitas tersebut hanya dapat dilakukan bila yang bersangkutan hafal al-Quran secara lancar.



Kehadiran teknologi canggih saat ini sangat membantu meminimalisir kesalahan. Dengan teknologi audio digital, kita dapat mendengarkan al-Qur'an secara utuh melalui piranti MP3 portable yang terhubung dengan earphone mini. Teknologi visual juga tidak kalah canggih, al-Quran sekarang sudah bisa diinstall dalam perangkat ponsel, Ipad, Iphone maupun Blackberry. Dengan kata lain, hafalan yang kurang lancar, bukan sebuah kendala, sebab bisa diatasi dengan perangkat canggih tersebut.



14. Yakinlah bahwa Al-Quran akan menolong kita selama kita juga menolong Al-Quran

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah), sekaligus mukjizat nabi Muhammad terbesar. Mengikuti pesan-pesan yang ada dalam al-Quran hakikatnya adalah taat pada Allah dan rasulnya. Ikut memelihara al-Quran berarti ikut merealisasikan janji Allah dalam Al-Quran: Sesungguhnya kamilah yang menurunkan al-Quran dan kamilah yang menjaganya.

Dalam ayat tersebut, terdapat kata "inna" yang berarti kami, padahal yang dimaksud adalah Allah.Sebagian mufassir mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah pelibatan manusia dalam rangka penjagaan Allah terhadap al-Quran. Para ulama sepakat bahwa hukum menghafal al-Quran itu fardlu kifayah. Hasil hukum tersebut diantaranya didasarkan pada ayat di atas.

Hal senada dengan itu, firman Allah: Jika kalian membantu Allah pastilah Allah akan membantu kalian.Dengan kata lain kalau kalian membantu al-Quran maka al-Quran akan membantu kalian. Betapa banyak orang yang hidupnya bahagia sejahtera, lantaran mencurahkan perhatiannya untuk belajar dan mengajarkan al-Quran. Bentuk perjuangan tertinggi dalam membantu al-Quran adalah menghafalkannya.Untuk itu yakinlah, setelah kita bersusah payah menghafalkan al-Quran kelak hidup kita akan ditata langsung oleh Allah.



15. Tidak banyak, orang yang mendapatkan fasilitas hidup seperti kita. Apa ada terima kasih kita?

Rasa syukur yang mendalam atas sebuah nikmat mampu menginspirasi untuk berbuat lebih baik. Dengan menyadari karunia Allah berupa kemampuan baca al-Quran atau berupa rizki yang cukup, seseorang pasti ingin mengungkap rasa syukurnya kepada pemberi karunia tersebut, yaitu Allah. Syukur yang hakiki adalah mengarahkan karunia tersebut sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Lalu bagaimana mensyukuri karunianya yang berupa kemampuan baca al-Quran? Sepakat atau tidak sepakat harus diakui bahwa di sekeliling kita sangat langka orang yang bisa baca al-Quran dengan baik dan benar. Secara tersirat dapat dipahami bahwa Allah memang memilih diantara hambanya orang-orang yang dititipi   al-Quran. Orang pilihan pastilah orang yang terpercaya. Orang yang terpercaya pastilah ia orang yang terbaik. Allah berfirman:

ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله ذلك هو الفضل الكبير) فاطر: 32 (

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Adapun bentuk rasa syukur tersebut adalah memperbanyak membaca atau menghafalkannya atau memahami isinya atau melakukan ketiganya. Orang yang diberikan kemampuan membaca dengan baik, hakikatnya dia baru diberi media untuk menjadi orang baik. Sama halnya orang yang diberi kail untuk memancing atau pisau untuk memotong. Kail dan pisau tersebut oleh si pemberi bukan untuk hiasan. Si pemberi sebetulnya sedang menanti kapan kail dan pisau tersebut dipakai. Si pemberi akan merasa puas apabila kedua alat tersebut benar-benar telah dipakai untuk kebaikan. Demikian juga kemampuan baca al-Quran, ia hanya sebuah media (wasilah), sementara tujuan diberikannya karunia tersebut adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya, menghafalkannya, dan memahami isinya.



16. Mulailah dari nol, karena ia pengganda setiap bilangan. Mulailah dari niat, karena ia menjadi penentu setiap sukses.

Banyak orang mendambakan suatu cita-cita dan memimpikan cita-cita tersebut tergapai dengan mudah tanpa pengorbanan. Tak terhitung mereka yang kagum dengan para penghafal al-Quran. Tak terhitung pula mereka berkeinginan untuk menjadi penghafal al-Quran. Hanya saja tidak banyak dari mereka yang menindaklanjuti keinginan tersebut dalam bentuk aksi nyata. Terkait dengan fenomena ini Ibn Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam mengatakan:

كيف تخرق لك العوائد وأنت لم   تخرق من نفسك العوائد

Bagaimana mungkin engkau mendapatkan keluarbiasaan (khoriqul adah) kalau kamu tidak mengeluarkan dirimu dari kebiasaan

Setiap kesuksesan pasti diawali dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Setiap perjuangan dalam meraih kesuksesan pastilah akan berhadapan dengan sekian banyak rintangan. Bukankah dalam agama sendiri-menurut al-Quran-ada banyak jalan mendaki (aqabah)? Dan Allah menjanjikan surga bagi orang yang melewati aqabah terbut.

Kapan Anda sekarang ini memiliki keinginan untuk menghafal al-Quran, syukurilah itu karena ia adalah obor yang membantu kita melewati gelapnya lorong panjang menuju taman surgawi yang abadi. Jangan pernah rasa cinta dan motivasi tersebut redup dan memudar lalu padam. Pelihara obor itu agar lebih terang dan semakin terang. Obor yang padam akan susah menyala kembali. Obor yang padam tidak dapat dipastikan kapan ia menyala kembali dan tidak ada jaminan untuk menyala kembali.

Untuk itu mulailah dari sekarang, jangan pernah menunda kesempatan emas karena ia tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.   Mulailah selalu dengan niat dan komitmen tinggi. Niat laksana angka nol yang menggandakan jumlah. Tanpa angka nol, tidak mungkin ada angka sepuluh, seratus, seribu dan seterusnya. Sebagaimana juga tidak mungkin ada urutan ke sepuluh tanpa dimulai dari urutan pertama.Artinya untuk mengejar cita-cita suci, perlu sebuah niat dan komitmen yang mantap, baru setelah itu memulai tahap I, tahap terendah yang harus dilalui.

Mustahil, bila ada orang hafal al-Quran 30 juz secara instan, alias bim salabim, dalam hitungan hari.Jangan bermimpi berlebihan bahwa Anda bisa hafal al-Quran melalui jalan ladunni (pemberian langsung dari Allah), sehingga waktu habis untuk mencari wirid kesana kemari dan mengamalkannya berbulan-bulan, sementara kegiatan menghafalnya tidak ada sama sekali. Imam Ar-Roghib Assirjani pernah mengatakan:

ما لم يبذل جهدا في حفظه فلا يبقى في   الذاكرة إلا قليلا (الراغب السرجاني )

Barang siapa yang tidak mengerahkan sekuat tenaga untuk menghafal, maka tidak akan tersisa di otaknya kecuali hanya sedikit.

Saya bersama rombongan JQH (Jamiyyah Qurro 'wal Huffadz, kini bernama HTQ) Universitas Islam Negeri Malang tahun 2006 berkunjung ke beberapa pesantren di daerah Mojokerto dan Jombang. Dalam kunjungan tersebut, kami sempat menanyakan perihal wirid / doa yang mempercepat hafalan. Tak satupun dari para masyayikh yang kami kunjungi memberikan ijazah doa / wirid. Sebaliknya mereka justru mengatakan bahwa doa yang paling mustajab adalah al-Quran itu sendiri. Mereka lebih menekankan pada para santri yang sedang menghafal untuk fokus hafalan secara istiqomah dan menjauhi wirid-wirid khusus yang panjang. Pepatah Arab mengatakan:

بيضة اليوم خير من دجاجة الغد

Lebih baik mengharap telur yang ada di hari ini dari pada mengharap ayam tapi masih besok adanya



17. Akankah kita menyerah sebelum pertandingan benar-benar selesai?

Tiap orang memiliki daya tahan (endurence) dan fokus yang berbeda-beda dalam menghafal, sehingga tidak jarang para santri itu berhenti di tengah perjalanan alias belum tuntas 30 juz, kendati banyak juga yang selesai tuntas. Terkadang ketidaktuntasan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya lingkungan menghafal yang kurang kondusif dan lemahnya dukungan keluarga. Bisa juga masalah muncul dari lemahnya motivasi internal.

Sejak awal, mestinya santri atau mahasiswa mengidentifikasi kemampuan dirinya. Apakah dia memiliki daya tahan dan fokus yang kuat? Apa dia juga memiliki motivasi yang tinggi? Proses identifikasi tersebut dilakukan dengan cara menghafal juz 30 terlebih dahulu. Juz 30 atau yang lebih dikenal dengan juz 'amma memiliki karakteristik ayat dan surat yang pendek-pendek. Tentu dengan karakteristik seperti ini, juz 30 menjadi lebih mudah dihafal dibanding juz-juz lain dalam al-Quran. Dengan fasilitas tersebut, seorang santri akan mampu meraba sendiri kemampuan menghafalnya. Kalaupun dia terhenti di tengah jalan, tidak akan sia-sia. Sebab, suratnya pendek-pendek dan banyak berguna untuk menjadi imam shalat, minimal efektif untuk dijadikan wirid atau bacaan rutin harian.

Ibarat bangunan rumah, bangunan yang sudah lengkap; ada dinding, pagar serta atap, ia akan bertahan lama meski tidak dihuni dan tidak terawat. Demikian juga hafalan. Ketika seseorang menghafal satu surat secara utuh, biasanya akan awet atau tahan lama, meski lama tidak dibaca. Resikonya menghafal juz 1 pada tahap awal akan mudah hilang seandainya terhenti di pertengahan juz.



18. Dengarlah rintihan orang yang ingin menghafal, namun tidak tercapai

Diakui atau tidak, menghapal al-Quran itu untuk umumnya kaum muslimin maupun muslimat merupakan naluri. Ia akan muncul dan tenggelam sesuai lingkungan dan situasi yang melingkupinya. Naluri itu kadang menjelma menjadi sebuah cita-cita dan harapan, layaknya kekayaan, jabatan dan popularitas. Cita-cita tersebut akan berubah menjadi menyakitkan sementara tidak tercapai.

Beberapa teman yang dulu ingin menghafal, rata-rata mereka menyesali kenapa keinginan tersebut dulu tidak direalisasikan dalam wujud usaha. Lebih-lebih, mereka yang pernah menghafal dan belum tuntas, atau pernah hafal namun kini pergi entah ke mana, seumur hidup mereka akan diliputi rintihan dan penyesalan. Mereka seakan hidup dalam fatamorgana yang tiada henti dan pengandaian yang tak berujung; seandainya dulu saya begini dan begitu, niscaya saya akan seperti mereka yang sukses menghafal.

Sebelum kita merasakan pahitnya penyesalan, mari optimalkan potensi dan Maksimalkan ikhtiyar. Tentu perjuangan di awal itu beratnya luar biasa. Penyesalan selalu berada di akhir cerita dan tak akan pernah muncul di awalnya. Demikian pula, indahnya kesuksesan itu hanya bisa dinikmati di akhir masa penantian panjang. Kata pepatah: berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersusah-susah dahulu lalu bersenang-senang kemudian.



19. Jangan tunda, hidup ini selalu dipenuhi dengan kata "ternyata" dan "tiba-tiba"

Waktu ini kadang menyerupai fatamorgana. Dari jauh tampak indah, seakan kita masih memiliki kesempatan 1000 tahun yang tiap detiknya bisa diisi dengan 1000 aktifitas luar biasa. Namun, ternyata waktu yang kita miliki begitu singkat dan sesak dengan berbagai kesibukan harian yang teknis.Fatamorgana di atas akan meninabobokkan setiap orang, terlebih jika ingin melakukan kegiatan besar yang positif. Itulah tes tiap orang yang ingin sukses.

Saat menghafal al-Quran, mahasiswa kadang begitu santai dalam melangkah. Alasan mereka, nanti saja kalau perkuliahan agak sedikit longgar, tugas kuliah terselesaikan semua, atau nanti saja kalau liburan panjang datang, akan menghafal sebanyak-banyaknya bila mungkin akan "bertapa" demi menyelesaikan hafalan. Sikap "taswif" (menunda-nunda) ini merupakan penyakit menular yang sangat ganas, serta penyebab utama dari setiap kegagalan menghafal.

Harus disadari, bahwa waktu kita secara matematis masih terbentang luas, sebenarnya hanyalah waktu bayangan bukan waktu yang sebenarnya. Misalnya; pada hari Minggu besok saya tidak ada kegiatan mulai pagi sampai malam sehingga jadwal menghafal hari Sabtu ini ditunda dulu lantaran agak sibuk. Marilah ditelaah contoh kasus penundaan pada. Manusia oleh Allah tidak diberi kemampuan untuk mengetahui takdir di esok hari. Kita semestinya tidak mengandalkan waktu yang belum muncul di hari ini. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi di esok hari, diantaranya:



a. Memang benar longgar, tetapi tiba-tiba ada teman sakit yang butuh pertolongan kita

b.   Memang benar longgar, tetapi tiba-tiba tubuh kita meriang / sakit

c. Memang benar longgar, tetapi tiba-tiba ada kabar buruk dari keluarga yang membuat kita susah

d. Pada pagi hari tiba-tiba ingin berolah raga atau main musik

e. Pada pagi hari, tiba-tiba ingin masak bersama teman atau mencuci baju

f. Pada siang hari, tiba-tiba ada acara televisi yang sangat bagus



g. Pada siang hari, tiba-tiba teman akrab lama datang

h. Pada siang hari, tiba-tiba ingin posting facebook atau menjawab email

i. Pada sore hari, tiba-tiba ingin bersih-bersih ruang dan taman

j. Pada sore hari, tiba-tiba HP / komputer kita bermasalah yang butuh penanganan segera

k. Pada sore hari, tiba-tiba motor kita ditilang oleh polisi

l. Pada sore hari, tiba-tiba tetangga kita meninggal dunia

m. Pada sore hari tiba-tiba ingin cari makan yang enak

n. Pada sore hari tiba-tiba muncul rasa malas pada terkantuk ingin tidur



Dan masih ada ratusan kemungkinan lain yang menggagalkan kita untuk melakukan kegiatan di hari itu.Masihkah kita suka menunda?



20. Mimpikan kebaikan agar jadi kenyataan, nyatakan kebaikan agar jadi mimpi indah

Hampir setiap orang memiliki "mimpi" dan cita-cita untuk menjadi sesuatu atau memiliki sesuatu. Namun, kondisi fisik, psikologis, sosial kerapkali menenggelamkan mimpi itu. Sebetulnya orang yang memiliki "mimpi sukses" itu tergolong orang yang hebat, sebab tidak semua orang punya mimpi. Mimpi itu termasuk ingin hafal al-Quran. Anugerah Allah yang berupa "mimpi untuk hafal al-Quran" jangan pernah disia-siakan.Lakukan penguatan "mimpi" tersebut agar menjadi motivasi kuat dengan banyak membaca kisah-kisah para pengahafal al-Quran dan hikmah-hikmah menghafal.

Dengan demikian, motivasi menjadi kuat dan bisa menggerakkan anggota tubuh untuk meralisasikannya menjadi kenyataan. Disini dibutuhkan metode dan strategi, supaya mimpi itu tidak dibelokkan menjadi angan-angan hampa belaka. Yakinlah setelah mimpi itu terwujud, tentu hari-hari kita begitu indah bersama al-Quran bagaikan mimpi yang membuai angan dan memanjakan khayalan.



21. Awali dari diri sendiri, kalau kita mendambakan sebuah keluarga "Qur'ani"



Kita tentu tergiur dengan kesuksesan keluarga bapak Mutammimul Ula yang kesepuluh anaknya hafal al-Quran, atau ingin meniru Abdurrahman Farih dan Husein Thababai yang mana di usia balita mereka sudah hafal al-Quran. Kita juga ingin rumah selalu bergaung suara al-Quran dari mulut anak-anak.



Hanya saja, semua harus dimulai dari diri kita (suami, istri, bapak, ibu). Bagaimana mungkin anak-anak akan mengikuti jejak orangtuanya, sementara orangtua tak memberi contoh pada mereka. Orangtua yang hafal al-Quran akan dengan mudah mengenalkan dan membiasakan hafalan pada putra-putrinya di manapun mereka berada. Mungkin setiap berangkat sekolah, anak dituntun untuk menghafal surat-surat pendek. Pasti tanpa terasa dalam kurun waktu satu tahun saja, anak akan hafal lebih dari satu juz. Hal ini sulit terrealisasi bila orangtua belum mulai menghafal sejak sekarang. Memang, orangtua yang punya hafalan itu mendatangkan efek domino yang luas, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain terutama keluarga dekatnya.



(Materi disampaikan dalam acara "Ta'aruf Qurani" yang diselenggarakan oleh Hai'ah Tahfidz al-Quran Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, tanggal 30 Oktober 2011, di Aula Rektorat lt. 3).

Sumber   : 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar